FH Menerapkan Problem Based Learning (PBL) Dalam Kuliah

   

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat menuntut sumber daya yang berkualitas. Peningkatan sumber daya manusia juga merupakan syarat untuk mencapai tujuan pembangunan, salah satu wahana untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut adalah pendidikan yang berkualitas. Sebagai faktor penentu keberhasilan pembangunan, maka kualitas sumber daya manusia harus ditingkatkan melalui berbagai program pendidikan yang dilaksanakan secara sistematis dan terarah berdasarkan kepentingan yang mengacu pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Hal tersebut direspon oleh para Dosen FH UNIB sehingga mencoba menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka pengembangan dan implementasi metode Problem Based Learning (PBL) di rana perkuliahan studi Ilmu Hukum. FGD dilaksanakan di Ruang Kuliah Internasional G. Moot Court pada 12-13 Agustus 2019. Sebagai inisiator yakni Prof. Dr. Herlambang dan dibantu dengan para dosen lainnya.

PBL adalah suatu metode pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai pemicu pembelajaran. Masalah yang biasanya diambil dari kehidupan nyata digunakan untuk memicu rasa keingin-tahuan mahasiswa sehingga mahasiswa berusaha menyelesaikan masalah. Untuk menyelesaikan masalah tersebut mahasiswa harus mendefinisikan lebih dahulu masalah sebenarnya dan menetapkan informasi yang sudah dimiliki atau yang harus dicari. Masalah yang diberikan bukan latihan tapi pemicu. Mahasiswa akan berusaha mengaitkan informasi yang mereka miliki dan menetapkan topik pembelajaran yang harus mereka pelajari.

Sebagian pengamat pendidikan menyatakan bahwa PBL adalah metode pembelajaran yang berstruktur tinggi (highly-structured learning method). Mahasiswa akan mengalami proses pembelajaran yang dirancang dengan pengaturan waktunya yang ketat, jelas tahap-tahap kegiatannya, pengawasan yang tinggi, ada umpan balik dan refleksi.

Selain itu juga PBL adalah salah satu metode pembelajaran dengan pendekatan student-centered. Pengajar dalam metode PBL akan berperan sebagai fasilitator bukan instruktur (atau lecturer). Pada metode ini mahasiswa belajar untuk mengkontruksi pengetahuan dengan cara masing-masing selama proses pembelajaran sewaktu menyelesaikan masalah. Isu pembelajaran yang terkait akan mereka pelajari sendiri dan mereka jelaskan kepada teman-temannya dalam satu kelompok. Integrasi pengetahuan masing-masing anggota ini yang kemudian digunakan untuk menyelesaikan masalah secara berkelompok. Dalam PBL tak ada lagi kuliah pengajar yang berlama-lama. Semua mahasiswa aktif dalam pertemuan di kelas. Semua mahasiswa ditantang untuk mampu mengutarakan pendapat dan pengetahuannya dan siap untuk ditanya oleh temannya sendiri. Proses belajar aktif seperti ini menurut banyak pakar pendidikan akan menghasilkan pembelajaran yang lebih dalam (deep learning). [Penulis : Yagie Sagita Putra, S.H., M.H ; Poto Andrian Setiawan, S.T]